Tuesday, February 17, 2009

Mengenal sosok Pak Budi Miarso

 Sederhana, muda dan dinamis, itulah kesan pertama yang tertangkap dari sosok Guru Besar Sapta Daya Ir. Budi Miarso saat ditemui di Klinik Alternatif Sapta Daya Banten (24/1/2007).

Kesan pertama ini cukup melegakan mengingat sebelumnya sempat terbayangkan sosok lelaki sepuh yang sedikit angker mengingat predikat yang disandangnya.

Lelaki berkumis kelahiran Kediri, Jawa Timur yang masih tampak tegap di usianya yang 47 tahun ini hanya tersenyum saat ditanyai mengenai hal ini. Ia mengatakan kalau dirinya selama ini selalu bersikap rendah hati yang memang menjadi inti dari ajaran Sapta Daya yang dikembangkannya sejak tanggal 7 Juli 1997.

Pria yang menjabat sebagai ketua umum sekaligus pendiri Sapta Daya Banten itu betul-betul mengabdikan hidupnya di Sapta Daya. Bahkan pekerjaannya sebagai konsultan rela ia kesampingkan demi mengembangkan yayasan yang juga memiliki sebuah panti rehabilitasi penderita narkoba di Kampung Cirampayak, Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Serang.
“Dari semua bidang social yang dikembangkan oleh Yayasan Sapta Daya, saya paling konsen di panti rehabilitasi narkoba, karena saat ini saya melihat bujuk rayu barang laknat itu sudah merasuk ke semua sendi bangsa Indonesia,” ungkap suami dari Monika ini.

Bahkan keinginannya mendirikan panti rehabilitasi narkoba pun berawal empat tahun lalu dari keprihatinannya saat masih bekerja menjadi kontraktor di proyek PLTU Suralaya. Katanya, saat itu dirinya melihat secara langsung bahaya narkoba yang mengenai rekan-rekannya, dimana tak hanya pekerjaan yang hancur tetapi kehidupan pribadi mereka yang mencandu narkoba jadi porak poranda.

“Berawal dari pengalaman itulah maka saya bersama rekan-rekan yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan seperti dr. H. Aris Halim (mantan Kepala RSUD Serang) dari kedokteran mencoba mencari solusi atas masalah yang tanpa disadari sudah menjadi ancaman bagi anak bangsa itu. Dan pendirian panti rehabilitasi ini yang kami pandang bisa menjadi salah satu upaya Sapta Daya untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang terlanjur terjerumus ke dalam dunia narkoba,” ungkap ayah dua anak, Karin Novinda dan Guntur Laksono.

Apalagi methode rehabilitasi narkoba yang diterapkan oleh yayasan relatif lebih nyaman dibandingkan methode rehabilitasi lainnya. Pasalnya methodenya tidak menggunakan bahan atau obat-obat kimiawi maupun perlakuan fisik yang keras bagi para pasiennya.

”Berbeda dengan terapi lainnya, kami hanya menerapkan methode psikoreligius yang merupakan gabungan dari olah gerak, olah nafas dan olah spiritual. Dimana pasien diajak untuk mengolah nafas dan gerakannya, sehingga tubuh menjadi sehat dengan stamina prima sekaligus dibarengi dengan ibadah untuk memperbaiki keimanan kepada Alloh SWT, sehingga diberikan kekuatan untuk tidak mengkonsumsi narkoba kembali,” ujar Pak Budi yang sebenarnya berlatar belakang pendidikan tehnik sipil tersebut.

Menurutnya, para pasien di panti rehabilitasi narkoba milik yayasan Sapta Daya, harus mengikuti semua kegiatan yang telah diprogramkan terutama kegiatan berolah gerak, nafas dan beribadah. Pasalnya, dampak dari penggunaan narkoba merusak sebagian besar organ tubuh sehingga fungsinya pun turut rusak. Bukan itu saja, aliran darah yang berfungsi mengangkut zat-zat, maupun vitamin dan mineral bagi tubuh pun turut terhambat.

”Oleh karena itu dengan olah gerak Sapta Daya yang merupakan gabungan dari berbagai olahraga beladiri yang sebelumnya saya tekunni, seperti taekwondo, karate dan silat serta olahraga pernafasan dan olah nafas, maka ion-ion listrik yang ada di tubuh manusia bisa dibangkitkan. Dengan begitu ion-ion listrik ini mengalir ke seluruh tubuh dan menghancurkan sumbatan-sumbatan racun narkoba atau toksin di pembuluh darah,” tukanya.

Terapi ini dibantu juga dengan pemberian suplemen yang kebanyakan terbuat dari madu agar kesembuhan pasien rehabilitasi narkoba makin cepat. Ia bahkan mengklaim kalau proses penyembuhan yang meliputi detoksifikasi di pantinya hanya memakan waktu paling lama satu minggu dan setelah itu pasien tak akan sakau kembali atau disebut relaps.

Bukan itu saja, lanjutnya, terapi psikoterapi juga dibarengi dengan rehabilitasi dimana pasien juga dibekali dengan ketrampilan dan konsultasi keluarga agar mereka mendapat dukungan untuk segera bisa sembuh.
”Yang terpenting dalam rehabilitasi pasien narkoba adalah bagaimana kita menciptakan kondisi dan lingkungan agar pasien yang telah sembuh tidak akan kembali lagi menggunakan narkoba atau relaps. Dengan terapi kami, InsyaAllah mereka tak akan lagi sakau atau memakai narkoba lagi,” tegasnya.

BELUM DIMANFAATKAN MAKSIMAL

Namun dibalik semua upayanya tersebut, terselip sebuah keprihatinan, walau panti rehabilitasinya itu sudah relatif murah dibandingkan dengan panti sejenis lainnya. ”Padahal kami sudah berkoordinasi dengan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga jajaran dibawahnya, namun entah mengapa masyarakat Banten sepertinya masih enggan memanfaatkan fasilitas dari panti kami yang merupakan satu-satunya panti rehabilitasi narkoba yang berizin di Banten,” ujarnya.

Faktor gengsi dari orangtua pasien penderita ketergantungan narkoba seringkali menjadi penghambat kesembuhan dan upaya rehabilitasi bagi pasien. Pasalnya masih banyak orangtua malu dan menganggap kalau para penderita ketergantungan narkoba sebagai aib dalam keluarga.
Padahal semestinya mereka diberikan pembinaan agar kembali ke pangkuan keluarga yang juga harus sarat dengan nilai-nilai luhur agama dan moral.

”Lagipula banyak orangtua yang malu saat tahu anaknya penderita narkoba, dan malah memilih membawa anaknya ke panti rehabilitasi narkoba di luar daerah, sehingga lepas dari pengamatan masyarakat,” tukasnya.
Padahal dengan menjauhkan para penderita narkoba belum tentu bisa mengembalikan mereka ke jalan yang benar atau sembuh. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga membesar bila mereka dirawat di tempat yang jauh dari rumahnya.
”Inilah yang mesti disadari oleh semua pihak terutama pemerintah. Dimana pemberantasan narkoba dan penyembuhan para korbannya bisa berlangsung sinergis agar dari tahun ke tahun jumlah penderitanya semakin berkurang,” harap alumni Tehnik Sipil Universitas Atmajaya, Yogyakarta ini.
Selain konsen di rehabilitasi penderita narkoba, Yayasan Sapta Daya juga membuka Klinik Pengobatan Alternatif yang menggunakan pancaran tenaga dalam untuk menyembuhkan keluhan penyakit. Para penyembuhnya sendiri berasal dari anggota Sapta Daya yang telah lama berlatih. Sampai saat ini anggota Sapta Daya mencapai ribuan orang dan memiliki 14 cabang yaitu : Serang, bandung, Jakarta, Bogor, Sukabumi, Garut, Jogjakarta, Lampung, Manado, Gorontalo, Cilegon, Kerinci dan Jambi.


ditulis ulang oleh HP dari (EP Chandra Dewi) Harian Radar Banten, hari Kamis, 25 Januari 2007

KLINIK ALTERNATIVE SAPTADAYA BANTEN


"Mohon ma'af, karena ada beberapa kendala teknis mengakibatkan Klinik Alternatif Sapta Daya untuk sementara di TUTUP sampai dengan pemberitahuan berikutnya"
Kepada masyarakat yang sudah terlanjur mengakui kemanjuran dari klinik kami disarankan untuk tetap bisa berobat ke masing-masing terapis secara individu dahulu. Anda bisa menghubungi no. HP dari Bapak Budi Miarso di 085959698487 atau no. HP Bapak dr. Haris di 0811127684.
Demikian harap menjadikan maklum

Sunday, May 07, 2006

REHABILITATION HOUSE FOR DRUG SUFFERERS


"REHABILITATION HOUSE FOR DRUG SUFFERERS"
Human body stamina is determinated by antibody quality. An antibody with a good quality work maximal, so the toxin neutralization process and damaging substance removal from the body (include dangerous/savage bacteria and viral) will be very perfect.
Inner power working mechanism will shown for heath and medical therapy. With a long breath we will get more oxygen for blood. Blood artery turn to be alkali, after holding long breath the carbon dioxide will pile up, at the same time we act certain movement in hypoxic condition (minimal oxygen content). A great energy releasing will happen through the body liquid ti the whole cells, vessel, body's parts, subsystem hormon, enzyme and antibody inside will increase. We must know that the perfection of regeneration process of body's part (organ) depends on the hormon quality, enzyme and antibody.
The pure inner power mechanism for drugs user therapy is to neutralize the toxin / poison from the drug's in user body.
When the inner power is combined with dzikrullah (only remember Allah) and prayer it will give a big power, motivation and energy to the drug's sufferers treatment and therapy (auto therapy).
The principle of the therapy is to treat, to do sport (body certain movement), to breath and to pray

  • To treat, means to remove the NAPZA (narcotic, alcohol, psycotropic, and other addictive substance) from patient body.

  • To do sport (body movement and to breath) , means to make the body healther with a good stamina.

  • To pray, means to improve the faith to Allah in order to get the power to refuse NAPZA.
Is it important? People who just recovered from NAPZA influence are easy to "come back" to NAPZA again. Therefore, prayer will be needed for sure, in order to control them from negative things.
Why we move and breath? The impact from using NAPZA to users is that body's organs will disturbed, also the function. In the long run, when this is stopped, the organs are not able to work anymore (damage). Ther are so many electrical ions in our body with very high voltage. these ions can raised by doing some body's movement (sport) and breath on certain/specific way. From this will come out a very usefull to accelerate the blood circulation to the whoel body. So many diseases caused when this circulation is not accelarated corectly. Automatically that means, vitamins distribution to whole body will be disturb too. When it happens for a long time, eventually will cause some disease, involves the NAPZA users.
Electric current wich always flows radiate the electromagnetic wave and this wave can strengthen aura in the whole body. This aura can be used to help the treatment for sick people, for themselves even for others. We can use it as protection (self-defense). Protection or self-defense would be very needed by people who are just recovered from NAPZA, because they are interesting target following to the drugs croupier.
Using inner power as self-defense makes people feel confident to protect themselves from the drugs croupier.
Main problem on healing the drugs sufferer/user is that they who already recovered, will come back to use the drugs again. SAPTA DAYA can solve this problem if GOD will, and reduce the number of relapsing .... Insya'Allah !!!

Contact person :
Ir. Budi Miarso
mobile phone : +62 859 5969 8487
or
Dahlan Riyadi, SE
mobile phone : +62 819 1120 0869
or
Heri Purwanta
mobile phone : +62 812 8887 723